Jun 15, 2007
Dari Teodisi Menuju Antropodisi:

Abstrak
Problem teodisi  yang berkutat  pada kausalitas dan penyelenggaraan Tuhan  sejak  zaman Junani Tuhan terhadirkan sebagai terdakwa. Kejahatan dan penderitaan sebagai  suatu privasi  senantiasa hadir dalam realitas dan kehidupan.. Semenjak  zaman renaisan teodisi  mengalami  pembalikan  Kopernikan. Manusia  sepenuhnya bertanggungjawab  problem teodisi.  Tuhan digusur otonomi sementara manusia  sebagai  subyek, pusat orientasi terafirmasikan.  Sejak itu pulalah  suatu teodisi sekuler muncul,  yaitu antropodisi.  Dalam antropodisi otonomi dengan  kebebasan menjadi sentral. Tuhan tidak lagi menjadi kambing hitam,. Sebaliknya  manusia bertanggung-jawab atas problem teodisi. Dengan antropodisi  berbagai perspektif baru terkuakkan.  Dalam pembalikan tersebut suatu pemikiran tentang humanisme baru  menjadi suatu keniscayaan,  sebagaimana misalnya pada humanisme eksistensial Sarterian. 
 
Pengantar
Teodisi   dalam ranah dan kajian filsafat  boleh dikatakan  kurang mendapat perhatian  para filsuf dibandingkan dengan  metafisika misalnya.  Bahkan  cenderung  terlupakan. Pada hal  harus diakui   materi yang  dikandungnya  sangat  mendasar dan  penting dalam upaya pemahaman manusia. Spesifikasi   teodisi terletak pada penekanan atas  kausalitas  dan penyelenggaraan atau  proviodensi Tuhan yang merupakan bagian  substansial  apabila  mempercakapkan manusia.

Problem tentang teodisi seumur dengan  manusia itu sendiri. Konstatsi ini  sejalan dengan  paham kreasionisme lebih-lebih setelah buah pengetahuan  baik dan buruk  dimakan oleh  Adam. Pelanggaran  perintah  Tuhan  adalah awal dari teodisi yang dimaksudkan. 

Keburukan (evil) mencoreng wajah kosmikal realitas termasuk mahluk lain  Di balik peristiwa teoditik tersebut kejahatan  dalam tataran  fisik manusia  tereksplisitkan. Segalanya  berantakan.  Demikian juga  kejahatan dalam  ranah moral  selamanya  akrab  dengan manusia.  Ketidak-adilan  menjadi pemandangan sehari-hari di setiap zaman.  Singkatnya kejahatan tetap bersimaharajalela.

Antropodisi  menjadi kepedualian  para filsuf semenjak renaisans.  Pada masa  pencerahan, antropodisi sebagai teodisi pembebasan dewasa ini semakin terjebak dalam alienasi. Hegemoni dan primordialisme filsafat dalam berbagai pencagbangannya, agama yang terkunkung dalam insolennya  selama  akan semakin berorientasi pada emansipasi dan paretsipasi yang menjadi hakikat antropodisi yaitu suatu  pembalikan Kopernikan dalam teodisi yang  berorientasi pada tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri, sekaligus  realisasi otonomi manusia  sebagai pusat jagat raya.

Dalam konteks inilah  alienasi sebagai suatu varian  kejahatan  (evil)  vis a vis penderitaan (suffering)  dalam tataran seminal diangkat   ke permukaan sekaligus    digeserkan ke tataran  antropodisi, suatu  risalah  tentang  kasualitas  dan providensi Tuhan  serta kaitannya dengan tanggun jawab manusia sebagai suatu stimulant dan langkah menuju pemahaman manusia secara lebif  substansial   terutama dalam filsafat manusia. .  

Alienasi Sebagai Bildung
Alienasi sebagai suatu varian dari teodisi terutama kaitannya dengan kausalitas Tuhan  penting untuk meletakkannya ke dalam status ontologisnya sebagai bildung, yaitu alienasi dalam  tataran makna yang disandangnya sebagai  sesuatu yang bersifat esoteris.

Alienasi  berakar pada pemahaman manusia dalam kreasionisme. Alienasi dalam   perspektif religius berakar pada  kredo kejatuhan Adam pada dosa menjadi sentral pada pemikiran abad pertengahan sebagaimana  tertorehkan pada ajaran Agustinus yang menjadi acuan bagi kristenitas. Alienasi itu  dengan demikian boleh dikatakan seumur dengan manusia  itu sendiri. Akan tetapi adalah Fichte, idealis Jerman abad kedelapanbelas pertama  kali menggunakan istilah istilah alienasi. Hegel dalam Fenomenologi Roh menampilkan  alienasi sebagai  yang mengasingkan diri ke alam dalam proses pengenalan diri melalui tahapan dialektika menuju roh absolute. Pengenalan diri tersebut dicapai melalui  lompatan   lompatan dialektis melalui kesadaran manusia. Realisasi roh obyektif  menuju roh absolut dalam kesadaran manusia  seperti inilah  dimaksudkan sebagai bildung.  Dalam konteks ini alienasi  sebagai suatu varian dari  kejahatan teoditik yang dimaksudkan menjadi fokus  dalam tulisan ini dipahamkan.

Alineasi  sebagai suatu konsep bildung serta kaitannya antropodisi hampir dapat dipastikan  jarang  diangkat ke permukaan.  Antropodisi sebagai suatu  cabang filsafat terabaikan. Padahal kehadirannya sangat penting terutama dalam persentuhannya dengan  manusia dan kehidupan dalam dunia realitas  secara tak terelakkan dihadapkan pada alienasi.  Alienasi selamanya berada dalam  suatu keadaan yang konstan dalam dirinya sarat dengan kutub-kutub yang bertentangan, dalam  monade yang memilki kepekaan dan aktivitas di luar  logika dan huikukm eksoteris dan otonom dalam dirinya.

Alienasi sebagai bildung serta kaitannya  dengan antropodisi  relevan diketengahkan  terutama  pada era penolakan terhadap narasi agung  pemikir postmodernisme.  Konsep konsep, dogma  lama  memperoleh interpretasi baru dalam antropodisi dalam suatu rangkuman berbagai pemikiran dan aliran. Suatu pemikiran eklektik  untuk  menyikapi  permasalahan  eksistensial manusia terutama alienasi  masyarakat modern menjadi suatu kebutuhan,  mengingat teodisi yang senantiasa terpaut dengan intervensi Tuhan, keterlibatan Tuhan  tidak memperlihatkan kekuatannya dalam memerangi  kejahatan dan kesengsaraan.

Bildung menjadi jiwa filsafat Jerman abad kedelapanbelas, bildung tereksplisitkan terutama pada Herder dan memuncak pada pemikiran humaniora abad kesembilanbelas, mencakup ide yang lebih awal dari sebuah bentuk alamiah yang merujuk  pada  penampakan eksternal dan bentuk bentuk yang diciptakan oleh alam. 

Dalam arti luas  bildung juga mencakup  kebudayaan dimana manusia  mengaktualisasika  seganap bakat dan potensinya. Pada Kant, bildung menjadi  perhatian khusus. Sedangkan  pada Hegel  terpahamkan  sebagai "mendidik" dan "memelihara" dalam kontek pemahaman Kantian. Humbolt membedakan bildung  dari kultur, oleh Gadamer dirampak sebagai sikap pikiran  dan perasaan intelektual total dan  usaha moral yang mengalir secara  selaras  ke dalam kepekaan dan karakter sarat dengan tradisi mistik kuna yang analog dengan   bentuk (form). Pada bentuk (form) tidak ada  makna  taksa sedangkan pada bildung ketaksaan menjadi suatu keharusan.

Bildung lebih  menggambarkan hasil proses menjadi daripada  proses  itu sendiri. Hasil dari  bildung tidak dicapai dengan cara  melakukan  konstruksi teknis, akan tetapi tumbuh dari proses pembentukan  dan pencapaian batin. Bildung analog dengan bahasa Junani "psyches",  yaitu tidak mempunyai tujuan dari luar dirinya. Alienasi sebagai  bildung melampaui konsep  tentang pemeliharaan terhadap bakat dan potensi tertentu.

Alienasi sebagai bildung  merupakan terapheutik  dalam filsafat manusia dan ilmu-ilmu humaniora yang relevan dikaitkan dengan alienasi. Alienasi sebagai suatu bildung  sejak renaisans memperolah makna  yang sepsifik dalam  Hegel dan selanjutnya menjadi  perhatian Marx.  Ia menelusuri hakikat manusia dengan segenap  permasalahan dan dalam kedudukannya sebagai mahluk serba butuh, manusia di dunia dan filsafat kerja yang mengisyaratkan terciptanya kebebasan.  Namun penting untuk digarisbawahi  bahwa alienasi sebagai bildung  tetap menjadi permasalahan esoterik luput dari perhatian para filsuf.

Alienasi  adalah suatu konsep ambigu mengingat  watak isoterik yang dikandungnya penuh dengan makna taksa. Teodisi  sebagaimana dikemukakan oleh Leibniz terkait dengan aktivitas kreatif dan dinamis  monade yang tertutu, tidak berjendela serta terstimulir oleh  kehendak untuk mengada lain di luar dirinya, mengatakan bahwa dunia ciptaan yang terbaik dari  dunia buruk lainnya tetap melahirkan  kejahatan dan penderitaan. Leibnikz telah mewngisyarat problem teodisi sebagai isyarat bagi pemahaman  otentik tentang manusia.  Teodisi juga menjadi kepedulian Voltaire. Melalui Candida dikatakan gempa  bumi Lisbon adalahbukti dari kejahatan. Gempa tersebut   memberantakkan kesempurnaan dan keteraturan dunia fisik, alam. Sesuatu yang buruk terpaparkan.

Alienasi adalah suatu konsep filosofis yang sarat dengan  makna bildung. Istilah ini diperkenalkan oleh Herder dalam visi historisitas diartikulasikan oleh Hegel dalam Phenomenology of Mind dan Philosophy of History. Dalam buku ini bildung  mengandung arti sebagai "membuka" dan  "membiarkan diri"  terbuka terhadap sesuatu yang lain, untuk yang lain menuju  universalitas. Alienasi sebagai bildung terbuka kepada  kritik dan refleksi filosofis adalah suatu keniscayaan ideal mengingat unsur unsur yang dikandungnya  seperti historikalitas, linguistaklitas, erlibnis dan unsur arkaik lainnya menopang antropodisi. Tema alienasi  sebagai sesuatu yang institusionalitas bukan orang perorangan, bukan kaum buruh tetapi seluruh peradaban dan kebudayaan menderita karena alienasi yang melembaga. Diperlukan suatu  orientasi yang lebih luas dan ontologis, kesadaran  akan  sasaran yang bersifat  ideologis yang memainkan peran yang bersifat  rohani atau religiusitas, serta sakralitas  mematikan potensi, kemungkinan menuju  emansipatoris manusia dan optimalisasi  aktualisai diri. Alienasi mutlak diletakkan  sebagai bildung.

Alienasi sebagai bildung serta kaitannya dengan  geistwissenschaften Dilthey, dan fenomenologi  Husserl. Dalam antropodisi karya-karya filsuf semenjak Aristoteles  sampai dengan  pemikir abad  modern termasuk praxis Marxian, eksistensialisme, proyek humanitas Neo-Marxisme yang berpuncak pada Jurgen Habermas alienasi sebagai bildung  terangkat ke tataran paradigma baru. Tokoh generasi kedua dari Mazhab Ia memproklamasikan  suatu terapi alienasi melalui  komunikasi. Dikatakan bahwa melalui komunikasi  dialog yang merupakan syarat terciptanya  emansipasi manusia dalam bingkai epsitemologi baru.

Melalui peletakan alienasi dalam perspektif  bildung  filsafat selanjutnya memperoleh  cakrawala baru dalam mensiasati kehidupan dan pemaknaan manusia secara lebih mendasar. Dalam antropodisea  diskursus alienasi menjadi aktual dipercakapkan. Bukankah setiap manusia sepanjang sejarahnya  senantiasa terlibat dalam proses bildung dan melampaui kealamiahannya.

Alienasi sebagai bildung  adalah  suatu cara mengada di  dunia, in der welt sein seperti yang dikotbahkan oleh Hiedegger dan kristenitas  dengan suatu formula  "ada menjadi manifest" dan "tidak ada yang tersembunyi adalah suatu tantangan bagi modernitas dan posmodernitas yang semakin marak pada abad milenium ini.

Subsititusi  teodisi ke dalam antropodisi adalah pembalikan Kopernikan   dalam filsafat manusia.  Antropodisi menggeserkan permasalahan klasik tentang teodisi yang nyaris tidak  mentuntaskan tugasnya sesuai dengan visi liberasi manusia dan emansipatoris dan keharusan partisipatoris dimana setiap individu  dengan kesadarannya mengaktualisasikan segenap bakat dan potensi yang dimiliki. Dengan antropodisi  diharapkan  pertanyaan Kant tentang  apa itu manusia melengkapi pertanyaan tentang "apa yang harus saya perbuat" menjadi tuntas dalam antropodisi.       

Kejahatan dan penderitaan dalam alienasi  sebagai  bildung dalam tataran antopodisi membuka suatu orientasi dan berbagai pespektif emansipatoris.  Permasalahan modernitas dan postmodernitas dewasa ini., termasuk memberikan perspektif baru bagi kemanusiaan.

Perlu digarisbawahi bahwa bentuknya yang eksektik dan  indefinitif  menjadi kelemahan sekaligus kekuatan antropodisi. Tanpa bentuk yang jelas dan definitif antropodisi  menjadi terapheutik dalam upaya  untuk menjamah ranah sakral,  makna tersembunyi yang menjadi obsesi kaum fenomenologis dan mengartikulasikan cara mengada dalam dunia realitas terproyeksikan dalam eksistensialisme. 

Antropodisi
Sesuai dengan watak alienasi sebagai bildung  suatu  teodisi  sekuler dibutuhkan. Teodisi yang dimaksudkan adalah antropdisi.  Antropodisi diharapkan dapat merespon  dan menyikap secara  sungguh-sungguh manusia problem teodisi. Antopodisi pada gilirannya  terarah sedemikian rupa dan berfungsi sebagai  terapheutik  bagi upaya untuk membebaskan  manusia dari belenggu kejahatan dan penderitaan, sekaligus mengkondusifkan manusia dalam  aktivitas  rekonstruksi diri, aktualisasi  segenap potensi dan nilai humanitas yang  menjadi komitmen dan orientasi renaisans dan pencerahan.

Dalam antropodisi  Tuhan tidak lagi terhadirkan sebagai terdakwa. Sebaliknya manusia  itu sendiri yang bertanggung-jawab  atas  alienasi. Didalamnya intervensi Tuhan ditolak. Dalam The Structure  of Evils, Ernest Becker mengatakan bahwa antropodisi sebagai teodisi sekuler merupakan alternative bagi solusi keterpurukan manusia. Antropodisi terniscayakan  sebagai terapheutik baggi lahirnya orientasi baru filsafat yang menekankan kemaslahatan manusia di dunia. Namun penting digarisbawahi bahwa  antropodisi  yang  digagasnya  mutlak bertolak dari manusia, serta mengekspresikan   watak sui generis manusia itu sendiri. Di dalamnya segenap  kompleksitas manusia yang merupakakan representasi dari "realitas ontologis"  manusia  tanpa terkait kausalitas dengan  Tuhan. Maksudnya, bahwa  antropodisi adalah  suatu teodisi sekuler yang secara langsung dan definitif  mengisyaratkan tanggungjawab manusia dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan  kejahatan dan penderitaan, yaitu  suatu tanggung jawab  khas dan murni  manusiawi. Antropodisi  yang ditawarkan adalah teodisi sekuler  berbeda  sama sekali dari teodisi sebelumnya. Antropodisi tersebut  secara  telak menohok kepada realitas manusia kongkret, yaitu manusia sebagai pusat jagat raya. (Becker : 18). 

Antopodisi memberikan pemahaman baru terhadap  teodisi tanpa harus menyeludupkannya dil luar manusia. Teodisi sekuler adalah  sebutan lain terhadap antropodisi.  Dalam antropodisi  manusialah yang menjadi pusat jagat raya. Varian kejahatan dan penderitaan dalam bentuk alienasi menurut pengertian bildung harus sungguh sungguh manusiawi dan bukan   pencitraan Tuhan.  Dalam antropodisi tanggung-jawab  terkait secara pasti dengan tanggung-jawab manusia. Kejahatan harus dijelaskan sebabagi ada dan hadir secara kongkret di dunia dengan suatu tanggung jawab manusia itu sendiri.  Suatu kejahatan minus intensi  atau justifikasi Tuhan. Tuhan diletakkan di luar. Sebaliknya  manusia menjadi  prinsip eksplnatoris lepas dari  kepercayaan, kategori kategori Tuhan. Terpisah dari kehendak Tuhan dan sepeuhnya  terletak pada  kekuatan manusia itu sendiri. Dalam teodisi  manusia mengafirmasikan otonominya secara definitif dengan suatu formula Kant yang menegaskan bahwa manusia  mutlak diletakkan  sebagai tujuan dan buka sebagai alat.

Dalam antropodisi eksklusifitas terhindarkan, sekat-sekat ilmu terbuka dan stagnasi pemikiran tercairkan.  Agama menjadi emansipatoris. Agama untuk manusia dan bukan manusia untuk agama. Didalmnya humanitas terafirmasikan, yaitu suatu humanitas yang kongkret dengan segenap paradoks-paradoks yang dikandungnya. Singkatnya  suatu revoulsi paradigmatik  dalam epistemology, pembalikan  Kopernikan yang menempatkan manusia sebagai yang otonom  dari dan  bagi dirinya,   menuntut suatu pertanggunjawaban khas manusia. Dalam konteks inilah pemikiran  yang tercakup dalam  pelbagai disiplin ilmu  semakin terfokus pada emansipasi manusia.

Alienasi, sesuai dengan watak esoterik  yang dikandungnya dalam antropodisi semenjak Aristoteles  sampai dengan  pemikir abad  modern termasuk Marxisme, eksistensialisme, proyek humanitas Neo-Marxisme yang berpuncak pada Jurgen Habermas alienasi sebagai bildung  terangkat ke tataran paradigma baru. Teori kritisi, postmodernisme, strukturalisme dan post-strukturalisme, konstruksi dan dekonstruksi, fenomenologi dan hemeneutika  serta ilmu manusia (science of men) menjadi landasan bagi antropodisi dalam menyikapi alienasi sebagai bildung. Antropdisi sebagai ekletik  tetap bertolak dari pemikiran mendasar, ontologi, postmodernisme, multikulturalisme, feminisme,  agama, budaya, sosial politik. Lebih dari diharapkan filsafat  tergeserkan ke dalam  praxis,  multikulturalisme sehingga filsafat Barat bergandengan dengan pemikiran termasuk  tradisi,  historisitas,  strukturasi dan berbagai pemikiran loka sebagaimana diisyaratkan dalam post modernisme. Dalam antropodisi kausalitas dan providensi Tuhan,  akan tetapi sesuai dengan visi emansipatoris yang berorientasi pada  pembalikan Kopernikan yang  dimaksud ke dalam tataran antropodisi.

Alienasi dalam tataran antropodisi secara signifikan menjadi kepedulian  idealisme Jerman dan  mencapai puncaknya pada  Marx. Gagasan-gagasan humanitas Marx terutama   pada masa mudanya dalam Paris Manuscript meletakkan  alienasi dalam konteks  antropdise, yaitu  suatu pemahaman tentang  kejahatan dan kesengsaraan sepenuhnya menjadi tanggung jawab manusia. Marx menelusuri sejarah keterasing tersebut dengan mengkaitkannnya dengan analisis  hakikat manusia sebagai mahluk serba butuh,  uang sebagai substitusi  komoditas, ada di dunia dan kerja sebagai mediasi. Alienasi sebagai akibat kepemilikan pribadi menyebabkan manusia kehilangan statusnya sebagai mahluk mahluk serba butuh. Kerja sebagai mediasi dalam sesuai dengan hakikatnya sebagai m mahluk yang serba butuh, alienasi tidak terhindarkan.  Manusia terusir dari kerjanya. Pada masyakat kapitalis, buruh  bekerja bukan untuk merealisaikan bakat dan potensinya, akan tetapi semata-mata   untuk memenuhi kebutuhan perut. Buruh terasing dari produknya. Keterasingan  ekonomis selanjutnya melahirkan keterasingan religius (Hardiman).       

Antropodisi  merupakan  tema sentral dalam  eksistensialisme abad XX. Titik tolak kebebasan sebagai ciri mengada manusia sebagaimana  dikatakan oleh Heidegger selanjutnya  tereksplisitkan  pada Nietzsche dan Sartre.   Sartre secara tegas menyatakan sikapnya tentang antropodisi sebagai  tanda keagungan manusia.  Gagasan Sartre tentang manusia terhukum oleh kebebasannya.. Tradisi pendakwaan Tuhan  untuk memperoleh makna tersembunyi  dari  misteri manusia dan kehidupan Dostoievsky   meletakkan dasar-dasar bagi antropodisi, Dostoievsky mengatakan pemahaman terhadap manusia mengisyaratkan  pemahan   terhadap tuhan.  Itulah sebabnya ia tidak membuunuh Tuhan sebagaimana dilakukan oleh  Nietzsche.  Namun penting dicatat  bahwa  hubungan resiprokal manusia-Tuhan   merupakan terapheutik lahirnya humanisme baru. Proklamasi Kirilovian tentang keharusan  menjadi Tuhan, membuka era baru dalalm sejarah   manusia tersebut dan sekaligus  pernyataan afirmatif terhadap  antropodisi selanjutnya  menjadi rujukan bahkan menjadi landasan bagi Sartre dalam  merndesain  humanisme eksitensial.

Kejahatan dan penderitaan ditorehkan dalam  Brothers Karamazov.   Teodisi merupakan kepedulian Dostoievsky. Teodisi yang ditawarkan Dostoievsky adalah teodisi yang unik sebagaimana ditegaskan oleh  Camus.  Teodisi tersebut adalah representasi dari absurditas itu sendiri.  Adanya kejahatan dan penderitaan adalah bukti kesewenang-wenangan Tuhan. Arogansi Tuhan mengakibatkan manusia menderita.  Kausalitas dan providensi Tuhan sungguh tidak terpahamkan.  Bahkan ironis anak-anak tak berdosa menjadi  korban  kepongahan Tuhan.  Melalui Ivan Karamazov, Dostoievsky mengatakan : "Kalau demi harmoni selestial lalu anak-anak yang tak  berdosa menjadi  korban"  dan  "Kalau ini merupakan prasyarat bagi terciptanya  harmoni selestial, maka karcis masuk sorga   yang menjadi milikku wajib  dikembalikan", demikian Ivan, tokoh protagonist novel terebu. Melalui Ivan,  Dostoievsky menohok kepada  eksistensi manusia. Namun  sama dengan  Epicurus  teodisi  solusi terhadap teodisi tetap merupakan problem yang tak terpecahkan. 

Bagi Dostoievsky teodisi  mengekspresikan nuansa eksitensial. Dengan argumen nalar dan rasionalitas  Ivan menolak  penderitaan anak-anak tak berdosa hanya dengan alasan harmoni selestial.  Pemecahan teodisi  dengan menekankan pada  prinsip keselaran, keadilan  yang tidak masuk akal harus ditolak. Kasih Tuhan dituduh absurd dan tak terpahamkan.   Algojo, ibu dan anak  yang disiksa  akan saling berpelukan dan  menyatakan "Engkau benar Tuhan".  Ivan tidak sudi menerima  pemecahan seperti itu. Menurut Ivan pemecahan tersebut immoral dan  bertentangan secara diametrical dengan prinsip rasionalitas dan   tatasusila. Menurut Ivan biaya yang dibayarkan kepada harmoni berlebihan itu tidak masuk akal. Dikatakan : "sebagai orang jujur, saya bahkan   harus mengembalikan tiket masuk surga saya". Ditambahkan: "Saya bukan menolak  untuk mengakui Tuhan, tetapi dengan  penuh hormat saya menggembalikan  tiket tersebut kepadaNya.   Dostoievsky mengatakan bahwa manusia adalah bebas. Karena ia bebas,  maka segala sesuatunya  diselesaikan  secara otonom  oleh manusia itu sendiri.  Kalau Tuhan tidak ada,  maka aku adalah Tuhan.  Ditandaskan bahwa menjadi manusia berarti   menjadi Tuhan. Inilah  inti dari problem teodisi dan antropodisi yang sesungguhnya.  Dostoievsky berkutat antara dua kutub tersebut. Sedangkan menjadi Tuhan mengisyaratkan manusia untuk melakukan tindak bunuh diri. Dengan membunuh diri manusia menjadi Tuhan. (Dostoievsky [BK] : 306-309].

Dostoievsky  mengkaitkan teodisi dengan kebebasan manusia. Atas nama kebebasan absolut yang menjadi  obsesi manusia sebagaimana  terwakilkan dalam Inkuisitor Agung dalam Brothers Karamazov  merupakan  wacana yang paling mengesankan dalam mempercakapakan problem teodisi  Sementara  sosok dan  kerahiman Tuhan  dalam kaitannya dengan manusia  tertuangkan dalam The Devils, merupakan landasan bagi konsep absurditas  Camus dan  kebebasan absolut Sartre dan kehendak berkuasa Nietzshe. Kirilov  adalah  sosok manusia antropodistik yang secara ketus    menampilkan  citra baru. Ia sekaligus  memproklamasikan  suatu pemikiran radikal  tentang problem teodisi, dalam absurditas menggeserkan  teodisi yang mengisyaratkan manusia agar mengamini absurditasnya.  Suatu  antropodisi  yang berbeda dari eksistensialisme lain terglarkan. Kirilov menyangkal Tuhan. Tuhan   mestinya ada. Akan tetapi nyatanya tidak ada. Kalau Tuhan tidak ada, maka saya adalah Tuhan.  Ditandaskan bahwa takdir kebebasan manusia mengisyaratkan  bahwa Tuhan tidak ada.  Sebab  jika Tuhan ada, maka kebebasanku ditentukan olehNya.  Dikatakan apabila Tuhan dan imortalitas tidak ada, maka segalanya diperbolehkan. Gagasan tersebut menuntut manusia untuk mempertanggungjawabkan kebebasannya  sebagai representasi dari    sosok dan  hakikat serta keotentikan dirinya yang  sarat dengan bipolaritas  kerajaan Tuhan dan kerajaan setan, ditengah-tengahnya manusia bereksistensi. Dalam  gagasan radikal teodisi,  Tuhan terhadirkan dalam bahasa  manusia.  Tuhan terhadirkan dalam realitas  hidup. Transendensi dan imanensi terleburkan dalam suatu cakrawala humanitas itu sendiri. Dostoievsky lebih memprioritaskan   manusia daripada Tuhan. Tuhan  diturunkan ke dunia. Orientasi  tersebut didukung oleh  semangat dan  keyakinan bangsa Rusia yang menempatkan  ke dunia imanensi. Dostoievsky mengatakan bahwa  kerajaan surga tercipta di dunia, namun Tuhan tetap hadir dalam realitas, dunia kongkret. Di sini antropdosi berkohesi dengan  teodisi. Diantara keduanya manusia bereksisteni. 

Dalam Eksistensialisme  dan Humanisme, antropodisi terpaparkan secara telak. Sartre mengatakan bahwa humanisme eksistensial membuka era baru dalam sejarah manusia. Ungkapan  seminal tersebut  tidak lain adalah suatu antropodis. Ditambahkan bahwa kebebasan manusia menjadi otentik  bukan terletak pada ada atau tidak ada Tuhan. Tuhan tidak berurusan dengan kebebasan. Kalaupun Tuhan ada, maka  Tuhan tidak  berpengaruh terhadap kebebasan. Kalau Tuhan ada, maka kebebasan  menjadi deterministik. Kebebasan  kehilangan keotentikannya. Manusia itu sendirilah yang menentukan kebebasnnya. Dalam konteks ini eksistensialisme tidak  kehilangan  perspektif sebagaimana dituduhkan oleh lawan lawan eksistensialisme. Sebaliknya humanitas, demikian Sartre   memperoleh nafas baru, yaitu humanitas tanpa Tuhan. Humanisme tanpa Tuhan adalah antropodisi. Dalam antropodisi inilah kebebasan  terafirmasikan.

Antropodisi Sartre membukan suatu humanisme baru, yaitu humanisme eksistensial tanpa Tuhan. Dalam humanisme tersebut dikatakan bahwa  dengan ketiadaan Tuhan hilang pulalah seluruh kemungkinan menemukan nilai-nilai yang Ada danb  juga dapat dipahami manusia. Mengutip Dostoievsky ditandaskan bahwa  "Apabila Tuhan tidak ada,  tidak akan ada lagi larangan". Ungkapan ini  menjadi  titik berangkat eksistensialisme, demikian Sartre. Memang segala sesuatu diperbolehkan jika Tuhan tidak ada, sebagai akibatnya manusia menjadi sendirian karena ia  tidak dapat  menemukan apapun, baik  di dalam maupuin di luar  dirinya sendiri, untuk dapat bergantung. Tidak ada lagi determinisme, manusia bebas, manusia adalah kebebasan. Apakah Tuhan tidak ada, tidak ada lagi tersedia nilai-nilai atau imperative imperative moral yang dapat melegitimasikan tingkah laku kita.  (Sartre [EE: 56-57).

Pada Nietzsche, antropodisi mengambil bentuk yang ekstrem sebagai antimony terhadap kristenitas.  Dalam Anti Kristus, dikatakan bahwa  kini muncul suatu masalah absurd. "Bagaimana Tuhan  bias membiarkan itu terjadi? . Nalar edan komunitas  memberikan  jawaban absurd yang benar-benar mengerikan, demikian Nitzsche. Dakatakan:  Tuhan memberikan putranya sebagai pengampubnan dosa sebagai pengorbanan. Seketika  itu juga habislah injil! Pewngorbanan karena dosa, dan itu dalam bentuknya yang paling menjijikkan, barbaric, pengorbanan manusia tidak  bersalah demi dosa-dosa manusia yang bersalah! Sungguh paganisme yang berdarah!  Sedangkan Yesus telah membuang konsep "salah" itu sendiri – Dia telah menolak adanya jurang antara Tuhan dan manusia, Dia menjalani hidup dalam kesatuan Tuhan dan manusia sebagai "kabar gembira"nya dan bukan sebagai hak istimewa. (Nietzsche [AK]: 242-243).

Kutipan  di atas  merupakan teodisi  sekuler  yang paling  substansil  dalam sejarah filsafat.  Kalau Dostoievsky dan Camus  menempatkan anak-anak kecil  tak berdosa sebagai  "tumbal" suatu harmoni selestial, pupuk bagi harmoni masa depan, Nietzsche  memperolok-olok  manusia yang mengorbankan Kristus, Tuhan  sendiri. Teodisi Nietzsche adalah teodisi  pengorbanan Tuhan   bagi manusia. Itulah yang hendak digugat oleh Nietzsche  terhadap kristenitas. Pengorbanan  Kristus bagi  manusia  yang berdosa  merupakan kebalikan dari  pengorbanan anak-anak kecil  yang tidak berdosa.    Suatu teodisi pada tataran adikodrati dirancang olehnya   sebagai terapheutik bagi  terciptanya manusia Agung. Nietzsche meproklamasikan suatu antropodisi humanitas sebagai suatu peringatan bagi manusia  yang mengatakan bahwa manusia itu sendirilah yang menyelesaikan masalahnya. Penderitaan, kepedihan dan segenap   kesusahan  bukan sebagai   sesuatu yang harus disingkirkan akan tetapi  sebaliknya untuk diamini.  Antropodisi tersebut  merupakan hakikat dari segenap  kemustahilan yang ditolak oleh kristenitas dan peradaban Eropa Barat yang menampilkan kembali  harmoni semangat  dyaonisian dan apollonian yang telah diberantakkan semenjak Socrates. Antropodisi yang ditawarkan adalah  antropodisi yang menghanat manusia ke masa depan untuk menjulangkan diri,. Manusia, demikian Nietzsche harus menjulangkan diri sebagai manusia agung  tanpa menopang diri kepada suatu kekuatan lain di luar dirinya.

Antopodisi mengafirmasikan sekaligus memaknai humanisme dalam arti yang "sesungguhnya" dan bukan artifisial dan naïf mirip dengan yang dilakukan Sartre dan berbagai  eksistensialis lainnya.  Dalam antropodisi manusia secara otonom bertanggung-jawab terhadap permasalahan kebebasan yang menjadi beban dan takdirnya. Manusia terhukum oleh kebebasannya memperoleh maknanya yang otentik Humanitas seperti ini tidak lain adalah antropodisi. Dalam humanitas baru tersebut kausalitas dan providensi tuhan tergeserkan  kepada  manusia. Keputusasaan,  kekosongan,  kecemasan dan  segenap bentuk ketidak-berdayaan termasuk faktisitas  manusia bukan urusan Tuhan.  Semua itu  merupakan konsekwensi logis dari  manusia sebagai mahluk eksistensial dalam konteks tragedi nabi Ayub.

        

Antropodisi  bukan menafikan Tuhan lebih-lebih lagi mengkambinghitamkanNya sebagai terdakwa. Dalam antropodisi kesadaran tergeserkan ke dalam kesadaran manusia dan bukan  kesadaran  Tuhan. Problem teodisi  klasik  memperoleh  pemahaman baru dimana kejahatan dan penderitaan   adalah kesadaran reflektif humanitas. Humanitas antropodiktik yang dimaksud  mirip dengan  humanitas eksistensialis sebagaimana  diintrodusir  oleh Sartre.   Dalam Existensiailisme dan Humanisme,  ditandaskan bahwa humanisme baru tidak lagi dikecohkan oleh pertanyaan tentang ada atau tiadanya Tuhan. Humanisme baru tidak lagi terseret ke dalam  pertanyaan ada atau tidak Tuhan. Bagi Sartre manusia menjadi suatu realitas  dengan syarat-syarat eksistensinya juga akan menumbuhkan  humanisme. Ditambahkan  bahwa  justru dalam dalam humanisme eksistensial  rasa cinta, kebersamaan dan humanitas justru terafirmasikan.   

Antopodisi mengafirmasikan sekaligus memaknai humanisme dalam arti yang "sesungguhnya" dan bukan artificial dan naïf. Dalam antropodisi manusia secara otonom bertanggung-jawab terhadap permasalahan kebebasan yang menjadi beban dan takdirnya. Manusia terhukum oleh kebebasannya memperoleh maknanya yang otentik dalam antropodisi. Kecemasan yang menjadi temna sentral eksistensialisme seperti ditandaskan oleh Kierkegaard, kebebasan menuntut tanggung jawab. Manusia terkutuk oleh kebebasan yang menjadi gagasan inti pemikiran Sartre juga  mengisyaratkan  tanggungjawab yang dimaksudkan.    Absurditas Camus dan disorientasi Kafka,  dan orientasi religius  pemikir lain   dalam kaitannya dengan   kejahatan dan penderitaan  serta  permasalahan  humanisme yang semakin runyam dewasa ini mengisyaratkan  pentingnya antropodisi  sebagai  suatu alternatif. Sungguh absurd akan tetapi  itulah manusia,  yautu manusia yang kongkret justru dalam  keabsurdannya.  Absurditas inilah selanjutnya  menginspirasikan Camus dalam paparannya yang tidak absurd lagi tentang manusia dalam karyanya yang sohor dan provokatif dalam Mite Sisifus.

Penutup
Permasalahan alienasi juga menjadi  pergumulan  para epistemolog pada era  modernitas dan postmodernitas. Dekonstruksi Derrida dan  strukturalisme Faulcaut dan  Levis Strauss cenderung  menempatkan manusia dalam kerangka struktur, namun lupa akan  makna alienasi sebagaimana diperingatkan oleh Heidegger. Permasalahan peradaban  sampai dengan dewasa ini ternyata tetap  meprihatinkan.

Atas dasar tersebut  disdkuirsus   tentang alienasi  terangkat ke permukaan. Teori kritisi,  postmodernisme, strukturalisme dan post-strukturalisme, konstruksi dan dekonstruksi, fenomenologi dan hemeneutika berkontribusi terhadap  tercitanya suatu teodis pembebasan pada masa  masa dating, yaitu antropodisi sejalan dengan "proyek"  geistwissenscahten Dilthey,  sama seperti Husserll  yang   terobsesi menjadikan  fenomenologi  sebagai ilmu rgorus dalam  ilmu  humaniora..

Antropodisi membuka  perspektif baru pada tataran emansipatoris dan partisipatoris dalam menghadapi permasalahan alienasi.  Dalam antropodisi berbagai disiplin ilmu  kemanusiaan (science of men) yang  menyangkut rasionalitas, irrasionalitas, agama dan mitologi serta  dimensi orientasi linguistikalis tersatukan, yang pada prinsipnya mengunggulkan manusia sebagai pusat jagat raya.

Antopodisi mendudukkan manusia sebagai yang otonom dalam  segenap parkara kehidupan, terutama menyikapi  problem teodisi.  Teodisi adalah filsafat masa  depan  yang  mengekspresikan  humanitas dalam pengertian  humanitas eksistensial.  Di dalamnya Tuhan  diabdikan kepada keagungan  manusia dan bukan sebaliknya.   Teodisi adalah filsafat manusia dalam arti yang sesungguhnya, di dalamnya  prinsip dan tuntutan emansipatoris dan partisipatoris terafirmasikan.

 

Daftar Rujukan
Becker E. Sturcture  of Evil.  The Free Press. Collier MacMillan Publisher. London, 1976.
Bambang F. Filsafat Modern. Dari Machiavelli Sampai Nietzsche. Penerbit PT. Gramedia  Pustaka Utama ,Jakarta, 2000.

Camus, Mite Sisifus. PT.Gramedia, Jakarta, 2002.

Dostoievsky F.M.  Brothers Karamazov.Oxford University Press, 1994.

Gadamer H.G. Kebenaran dan Metoda. Pengantar Filsafat Hermeneutik. PT. Gramedia Pustaka   Pelajar, Jakarta, 2002..

Novack, G. Existenstialism Versus Marxism Conflicting Views Humanism.  Delf  Publishing Co., Printed in US.A..

Meszaros I. Marx's Theory of Alienation. Harper Torch Books. New York, Evanston,
San-Fransisco, London, 1970.

Zordan Z.A. Karl Marx : Economy, Class and  Social Revolution. Charles Scribner Sons. New York, 1971

Marx  K and F. Engels. German ideology. International Publiher. New York, 1961.

Sartre J. P.  Existentialisme dan  Humanisme. Pustaka Pelajar, Jokyakarta, 2002.

MacGlynn J.V.  A Metaphysics of  Being and God. Parentice-Hall, Inc. Engelswood Cliffs, N. J. 1966.

 


 



Posted at 02:24 am by moan_bb
Make a comment